Minggu, 26 April 2015
Adakah kita telah bersiap???
Memiliki awal, dan memiliki akhir.
Bila dilihat dari luarnya, hidup manusia terlihat sangat sia-sia.
Namun, setelah memikirkan arti kematian itu... nyatanya hidup manusia penuh dengan rasa.
Bukan bagaimana cerita mula dan akhirnya, tapi point yang terpenting adalah proses menjalaninya.
Bagaimana hidup manusia itu dijalani. Dengan cara yang bagaimana. Seperti apa. Bagaimana proses setiap bagian waktunya... itu adalah yang terpenting. Dan nyatanya tidak sia-sia. Benar-benar penuh dengan rasa.
Dan, dengan siapa kita menghabiskan waktu untuk hidup yang hanya sesingkat tidur siang ini?
Adakah tidak menyesal nanti ketika habis waktu nya?
Semua akan berakhir. Bagi mereka yang sangat takut akan kematian itu nyatanya, mereka pasti akan bertemu dengan kematian lebih awal dari mereka yang merasa berani. Bukan kah sangat mudah roh itu telepas dari raganya?
Pembahasan kali ini sangat menakutiku.
Namun, setelah ku liat mereka-mereka yang setiap harinya mempermainkan kata mati. Akhirnya mati.
Merasa hidup mereka begitu panjang nya, seakan mati hanya untuk lelucon membuat tawa orang lain, sebenarnya membicarakan mati sangat lah menakutkan. Hidup adalah Alloh yang menentukan. Alloh lah yang menbuat permulaan dan part akhir setiap hamba-Nya.
Adakah kita telah bersiap???
Sabtu, 21 Februari 2015
Anak
Kenyataannya, anak berapapun usia nya adalah tetap adanya dalam penyebutan "anak". Kecenderungan anak adalah meniru tingkah pola yg dilihatnya dari keseharian orang tuanya. Begitulah sifat keras kepala dilihat dan dijadikan tingkah pola keturunan untuk ditiru dan diterapkan.
Adalah memang tak semua mampu melihat inti sari hidup yang sebenarnya. Hakekatnya kita hidup dibumi ini hanya persinggahan dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun. Hidup ini adalah tempat untuk menanam sebanyak-banyaknya pahala untuk kita panen nanti ketika bertemu dengan Alloh.
Rabu, 17 Desember 2014
Nyanyian Meragu
Tak selamanya mampu manahan godaan angin, karena angin selalu berhembus dengan arah yang tak sama.
Membuat timpang dan meragu, melepaskan angan dan bergerak menjauhi. Menyadari akan hal2 yang menggoga hati untuk dilakukan sebelum bergerak dalam kebijakan.
Helaan napas menyadarkan akan batasan hidup yg Tuhan beri tak selama Adam As. Mengerti bahwa ada hal yg akan dipertanggung jawabkan pada Tuhan. Bahwa segalanya kadang tak berjalan sesuai angan dan berdasar realita nya. Oh mengapa ini mulai membuat ragu.
🎶Aku ingin begini, Aku ingin begitu.
Semua ingin ingin ingin itu banyak sekali. Semua semua semua pasti dikabulkannya dengan kantong ajaib. 🎵 doraemon...
Kecewa ya?
Seperti rasa tak enak ketika ditonjok dibagian abdomen mu, itulah mungkin hal yg tepat untuk mengatakan ini.
Kadang memang tak perlu dipertanyakan hanya untuk berniat agar terpenuhi hasrat keingintahuan kita terhadap nya, menimbulkan kekecewaan yg mendalam.
Tak mampu nya dia, untuk menyaring apa yg perlu disampaikan menyebabkan luka. Dewasa kah ini Tuhan? Ingin tahu, namun merasa menyesalkan rasa tahu ini?
Beginikah seharusnya? Menyatukan tidak hanya 2 org tapi 2 keluarga budaya dan cara berbedanya? Benar2 memiliki sudut pandang tak sama dalam memandang dan beragumen?
Selesaikah tugas orang tua setelah dewasa anaknya? Mengapa berbeda cara orang tua menganggap pentingnya keinginan anak? Dan cara upaya orang tua membantu anaknya?
Kecewa, entah mengapa hati ini memahami alasannya,... Namun mengapa terasa lebih kecewa nya diri terhadap keadaan ini? Adakah harus diri ini berada dalam situasi ini Tuhan??
Rabu, 10 Desember 2014
Jawaban ku
Jika memang jalan ku telah dimulai sejak aq ketemu kamu, dan seberapa kuat aq menghindari,
kamu tetap aq lihat dalam jangkauan ku, sekarang aq berenti.... Berenti untuk tidak menghindarimu lagi... [11/12 00.29]
Selasa, 09 Desember 2014
Se-windu
Duhai diri yang banyak berkeinginan, mengharapkan segalanya sesuai hati. Menginginkan yg teridah, yang terbaik.
Adakah salah jika begitu?
Mempercayai bahwa segala yg baik hanya bersumber dari-Nya?
Berkeinginan memiliki dia yang menjadi imam membawa surga?
Adakah bau surga begitu jauhnya? Sehingga tak layak aku sehasta lebih dekat?
Mengetahui diri yang lebih hitam dari putihnya surga, berusaha dengan terseok-seok melawan nafsu dunia dan menginginkan surga? Adakah salah jika mengharapkan?
Melihat sisi dengan cara tak sama, nyatanya ditentang keras dengan mereka. Dituntut oleh kematangan usia, diwajibkan untuk segera.
Adakah ketakutan ini berujung salah? Mengkhawatirkan memulai hidup dengan orang yang salah? Yang bahkan tak mengerti huruf-huruf Nya? Oh, apakah solusi untuk dapat hijrah ini begitu ruwetnya?
Mengapa tak mampu dimengerti dengan dia yang telah ditakdirkan sebagai pemimpin diri, istri dan anaknya? Menegur dan menghilangkan penat dengan melawan diri menuliskan sindiran melalui tulisan di media sosial?
Imam kah itu? Bahkan tak layak dia untuk dirinya..
Adakah tak mampu dia mengerti bahwa hati yang telah membeku ini telah mempercayai bahwa cinta tiada berarti? Tak datang dia dengan kehangatan tapi hanya dengusan untuk dapat dimengerti? Dipahami dia lah sang lelaki?
Nyatanya waktu sewindu tak dapat mencairkan diri untuk belajar memahami? Adakah ini berhati batu sehingga sulit buat dipelajari?
Menginginkan diri dipimpin bukan memimpin, fitrahnya imam adalah seorang laki-laki. Atau perlu ku tanyakan? Lelakikah????
Minggu, 07 Desember 2014
Husnuzon
Memutuskan sesuatu untuk hal yg berkelanjutan membutuhkan banyak energi positif yang lebih real.
Pemahaman akan hal ini lebih mengutamakan keimanan.
Keimanan untuk menyerahkan segala nya pada Alloh. Kadang segala nya tak berjalan sesuai dengan permintaan dan hal yg telah diharap-harapkan. Ini lebih masalah untuk bertawakal.
Target telah disusun untuk dijalankan.
Pembuktian akan menperlihatkan hasilnya berdasarkan waktu yang konsisten berjalan. Percaya dan ber-husnuzon pada- Nya.